| Foto: Pixabay |
Tak ada yang tahu semuanya akan seperti ini?
Maafkan aku, dua kata yang menjadi buah bibir setelah dusta yang mungkin sengaja atau tidak sengaja kau perbuat.
Kau yang dulu kudengar dan kupercayai ceritanya kini menjadi
kau yang sangat kuhindari, walau hanya untuk saling sapa apalagi untuk saling
berbagi cerita.
Pengkhianat, sebuah stigma yang muncul dalam diriku saat
teringat sebuah nama yang dulu sangat kupercayai.
Walaupun aku paham, setiap manusia pasti ada salah dan
berhak untuk mendapatkan maaf, lalu pantaskah kata maaf ini untukmu?
Perihal memaafkan bagiku adalah hal yang mudah, namun kata maaf
terkadang terhalang oleh kata lupa yang tak pernah pudar dalam ingatan. Sederhananya,
aku bisa memaafkanmu tapi aku tak bisa melupakan kesalahanmu.
Dan hal yang paling terberat bagiku ialah mempercayai kata
maaf yang kau ucap, satu waktu aku percaya hal itu, dan kebanyakannya aku tak
mempercayainya sama sekali.
Terima kasih, telah mengajarkanku untuk merawat percaya
setelah berulang kali ku diperdaya. Dan aku baru menyadari jika kata maaf dan
memaafkan adalah dua kata yang tidak selamanya keluar kejujuran dan ketulusan.
Harapanku, kau tak perlu meminta orang lain untuk membuang banyak
waktunya untuk mendengarkan dan memahami segala cerita tentangmu.
Bagaimanapun aku tak menginginkan bermunculan banyak orang baru
yang tidak mempercayai dirimu kembali.
Terimakasih karna sudah mewakili🥺
BalasHapussama2, jangan lupa untuk saling tetap saling memaafkan
Hapus