Rumahku Rubuh, Cemaraku Rapuh

Source : Pinterest

Dari lampau hingga kini, semuanya selalu nampak sama  untukku.  Hampir semua yang ku usahakan  selalu berakhir pilu. Entahlah cemara yang selalu orang lain sanjungkan, aku malah tidak menemukannya sama sekali. Padahal aku tak pernah berekspektasi apapun dalam hidup, namun sepertinya sabarku sudah memuncak, batasku sudah perlahan rusak. Sejujurnya yang aku inginkan hanya tentram. Meskipun aku selalu mencoba untuk memperbaiki semuanya, namun pada akhirnya tetap sama. 

Aku ingin bertanya, pernahkah kamu berada dirumah yang kumuh dan bedebu, banyak orang disana sebenarnya namun hanya kamu yang sadar bahwa rumah itu sudah hampir rubuh? Pernahkah kamu membereskan sesuatu berhari-hari, namun pada akhir didalamnya tetap sama saja? BERANTAKAN. Lelah ya, ketika kita berpikir  hanya kita yang menjadi penopang disana. Hanya kita yang berjuang untuk memperbaiki semuanya. Aku tak ingin menyalahkan siapapun, namun pada kenyataannya hanya aku yang peduli dan habis energi. 

Entahlah, jujursaja aku sudah muak. Aku muak dengan semua kehidupan yang runyam ini. Aku muak dengan ke-overthinkinganku tentang masa depan, aku muak dengan pemikiranku yang ingin memberikan yang terbaik untuk orang orang disekitarku, aku muak karena aku tidak bisa menjalani kehidupan dengan layak, aku muak dengan semua riuh yang menggangguku, aku muakkk. 

Cemara yang selalu orang lain rasakan teduhnya, aku tak pernah mendapatkannya. Mungkin memang semilir angin pagi atau sore sesekali menghela. Namun dikebanyakan waktu aku hanya diam dan menuggu reda. Aku selalu berharap untuk membangun gubuk yang nyaman disana. Untuk tempatku pulang, tapi sayangnya tidak pernah berhasil. Yang aku dapatkan hanya lelah setelahnya. Apapun yang aku upayakan, nampak tak berarti untuk cemara yang kuusahakan. Ingin sekali hati untuk melihatnya membaik dan bertumbuh lebat, namun kenyataannya cemara itu semakin hari semakin tua dan semakin keras. 

Aku tau, bahwa sang cemara mungkin saja mendapatkan keadaan yang sangat amat memilukan sebelumya, sehingga rindangnya sudah mulai pupus. Namun, apakah masih bisa kuusahakan untuk bangkit lagi. Karena pilunya, aku tak punya tempat lain untuk kembali. Aku hanya sebatang ranting yang ingin tumbuh dirindangnya pohon cemara. Aku hanya ingin merasakan rindang nan nyaman yang orang lain katakan. 

Rapuh sebenarnya, namun ku ingin mencoba kuat untuk membenahi dan menumbuhkan kembali sang cemara. Entah akan seperti apa akhirnya. Semoga sang cemara kan lekas nyaman sebelum berakhir semuanya. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Rumahku Rubuh, Cemaraku Rapuh"

  1. Gambaran singkat, tentang kamu yang tetap berjuang meski tak pernah dipandang.

    BalasHapus

Aduan Kepada Tuhan

Dari mana datangnya mimpi Dari ingin yang dipupuk dengan asa Dari mana adanya juang Dari mimpi yang perlu direalisasikan Lintingan promblema...